Sore itu langit tampak kelam, tak seperti hari kemarin, ia hanya bermuram diselimuti gelapnya kabut. Saya dan kawan-kawan sudah berpacu dengan waktu, tanpa sadar bahwa langit tak mendukung kami. Maklum saja semangat yang terbakar di jiwa kami lebih berkobar dibandingkan muramnya cuaca saat itu. Kali ini kami memasuki lingkungan yang jauh dari tempat tinggal kami. Sebuah komunitas belajar bagi adik-adik yang memiliki keingintahuan yang besar tentang pendidikan, usia merekapun terbilang variatif. Butuh 30-40 menit untuk menggapai tempat itu. Namun, perjalanannya cukup menghangatkan jiwa, karena dihiasi dengan berbagai gelak tawa sahabat dan pemandangan semi perkampungan yang jarang kami temui ditempat kami tinggal. Hal itu mengantarkan jiwa kami pada atmosfir yang segar. Seperti bayi yang baru saja terlahir, yang pecah dengan suara dan gerak kebebasan. Untung saja kebebasan yang kami rasakan adalah kebebasan terdidik. Artinya kami ingin jauh lebih paham tentang kehidupan desa seutuhnya.
Kami pun tiba dengan selamat dan tepat waktu pada tempat tujuan. Suara-suara emas itu terdengar, yah' anak-anak mungil di sebarang jalan, tempat dimana kami bertugas di hari itu. Tak memakan waktu lama untuk dapat bersahabat dengan mereka, karena ternyata kehadiran kami telah dinantikan oleh mereka.
Satu hal yang sangat berkesan dalam pertemuan ini dan menjadi pelajaran bagi saya pribadi adalah mengenal dunia anak. Saya perlu mengenali dunia anak, jika saya ingin diterima oleh mereka. Saya harus mampu memahami dan menjadi mereka barulah saya dapat berbaur dengan mereka.
Semoga kisah ini memberi indpirasi bagi kita semua.
Cat.:
- Dokumentasi dan Program: TEC (Timika English Club)
- Tempat dan komunitas yang dikunjungi: Honai Sirbe
- ALamat: SP.3, Timika - Papua
No comments:
Post a Comment
Berikan ide kreatif anda. Trimakasih, Tuhan Berkati.